Jarak yang terbentang
Terbalut dinginnya malam
Terkenang kembali
Kau yang selalu terharapkan
Kapan pulang?
Gundah ini semakin tajam
Menunggu yang tercinta tuk segera datang
Cerita ini sukar ku tebak
Alur yang berliku
Berisi rancangan indah nan tak terduga
Laksana siap meledak di suatu masa
Rindu ini indah
Berbaur menjadi satu
Dalam barisan doa setiap sembahku
Sayang ini mengakar
Kuat menancap hingga palung hati terdalam
Cinta ini semangat
Bagai mentari yang bersinar
Membawa harapan setiap pagi
Jarak
Gundah
Rindu
Sayang
Cinta
Semua tersusun rapi
Terbungkus manis
Menyatu sempurna
Kamu
Minggu, 11 September 2016
Rabu, 31 Agustus 2016
Tentang Ikhlas
Waktu terus berjalan, meninggalkan jejak ribuan kenangan. Banyak yang berubah, karena usia juga bertambah. Seorang ibu yang bertambah tua, memiliki beberapa anak yang juga semakin dewasa, bahkan anak-anaknya telah memiliki keluarga sendiri-sendiri dan membuat ibu itu kini dipanggil "nenek". Cucu-cucunya yang dulu sering beliau gendong, sering beliau ajak jalan-jalan, sering menelepon, kini juga sudah menginjak remaja dan memiliki dunia sendiri.
Beliau selalu menantikan hari raya lebaran, karena hanya pada saat itu anak-anak, menantu, dan cucunya dapat berkumpul di sebuah rumah yang sehari-harinya hanya ditempati oleh beliau seorang diri. Suasana keakraban dan kebahagiaan selalu menyertai keluarga besar itu. Beliau berharap agar hal seperti itu tidak pernah berakhir.
Namun, begitulah waktu, ia bisa mematahkan harapan siapapun tanpa peduli, siapa yang dipatahkan harapannya. Anak-anak beliau tinggal tersebar di beberapa kota. Dengan kesibukan yang makin bertambah, waktu untuk mengunjungi ibunya juga sering terhambat, pun ketika lebaran, kelengkapan keluarga besar sudah jarang terlihat.
Si nenek sangat merindukan anak-anak, menantu, dan cucunya, namun beliau berusaha mengerti kesibukan anak-anaknya.
Dan lagi-lagi sang waktu mampu membuat semua keadaan berubah. Si nenek mulai sakit-sakitan, membuat anak-anaknya kalang kabut harus membagi tugas antara mengurus ibunya atau pekerjaan yang selama ini menjadi tanggung jawabnya. Hingga pada suatu titik dimana si nenek harus tinggal bersama salah satu anaknya karena kesehatan yang kurang memungkinkan untuk tinggal sendiri.
Disinilah perubahan besar itu terjadi. Si anak merasa bahwa dengan membawa ibunya tinggal bersamanya, ibunya menjadi lebih nyaman dan tenang karena tidak sendiri, sehingga si anak bisa tetap bekerja. Namun ternyata, dugaan si anak tidak sepenuhnya benar, ibunya mengharapkan si anak dan cucunya bisa menemaninya setiap saat, namun si anak tidak mampu dan membuat si nenek merasa "kurang diperhatikan", akhirnya si nenek meminta untuk tinggal bersama anaknya yang lain. Hal yang sama pun terulang, selalu ada sesuatu yang membuat si nenek kurang betah tinggal bersama anaknya. Mungkin disinilah kebenaran kalimat dari seorang pepatah yang mengatakan bahwa, "seorang ibu mampu mengurus beberapa orang anaknya, namun beberapa orang anak belum tentu mampu mengurus seorang ibu".
Setelah beberapa kali berpindah tempat tinggal di rumah anak-anaknya, si nenek kembali ke rumah anaknya yang pertama kali ditinggali. Namun anaknya yang lain beberapa kali juga kerap mengunjungi si nenek yang berada di salah satu rumah anaknya.
Beberapa bulan pun berlalu, usia si nenek semakin senja dan membuatnya semakin membutuhkan perhatian lebih.
Si anak berusaha memberikan perhatian yang lebih terhadap ibunya. Tanpa disadari, si cucu merasa "cemburu" terhadap apa yang dilakukan oleh orang tuanya terhadap neneknya. Si cucu sering dilibatkan dalam mengurusi si nenek, namun si cucu masih sering belum sepenuh hati melakukan tugasnya.
Pertikaian kecil sering mewarnai kehidupan si anak dan si cucu. Si anak merasa bahwa si cucu sudah besar sehingga harus mampu mengurus dirinya sendiri dan membantu mengurus si nenek, namun si cucu merasa bahwa si nenek memiliki beberapa orang anak, namun mengapa hanya orang tuanya yang mengurus si nenek? Anak-anak si nenek yang lain juga tidak terlalu terlihat dalam mengurusi si nenek. Meskipun salah seorang anak si nenek yang lain juga kerap mengunjungi si nenek, barang satu malam saja. Si cucu juga sadar, berpikiran seperti itu merupakan keegoisan yang sangat besar. Orang tua memang sudah selayaknya diperhatikan dengan baik, karena beliau juga sangat memperhatikan orang tuanya dengan baik, dahulu.
Hingga pada suatu malam, keluarga ini melakukan perjalanan untuk pergi ke rumah si nenek karena si nenek sangat rindu dengan rumahnya. Dalam perjalanan, si nenek mengeluhkan bahwa beliau mual, sakit perut, dan ingin teh panas dan si anak meresponnya dengan baik. Saat itu pula, si cucu juga merasakan mual. Sampai dirumah si nenek, si cucu langsung keluar, duduk di teras, untuk mencari angin segar. Si anak yang mengangkat tas si nenek meminta si cucu untuk membukakan pintu.
Ketika semua sudah selesai dan si nenek sudah beristirahat, si anak berkata pada anaknya (si cucu),
"Jadi orang jangan egois, jangan mentingin diri sendiri, bantu orang lain", si cucu pun menjawab, "aku tadi mual", dan tanpa disangka, si anak malah menjawab, "pokoknya jangan mentingin diri sendiri, dibuat jalan aja, ntar juga hilang mualnya". Fix, kalimat itu mampu meruntuhkan perasaan si cucu dengan sempurna. Dengan perasaan kesal karena merasa orang tuanya lebih peduli dengan neneknya, si cucu mengatakan, "kalo nenek yang ngeluh, pasti nggak disuruh apa-apa", si anak yang juga kesalpun langsung menjawab, "emang kok, perhatian cuma buat nenek, nggak perhatian ke kamu. Enak kan jadi nenek". Si cucu langsung menjawab kembali, "ya, mengambil semua perhatian". Dan si anak hanya diam.
Namun, begitulah waktu, ia bisa mematahkan harapan siapapun tanpa peduli, siapa yang dipatahkan harapannya. Anak-anak beliau tinggal tersebar di beberapa kota. Dengan kesibukan yang makin bertambah, waktu untuk mengunjungi ibunya juga sering terhambat, pun ketika lebaran, kelengkapan keluarga besar sudah jarang terlihat.
Si nenek sangat merindukan anak-anak, menantu, dan cucunya, namun beliau berusaha mengerti kesibukan anak-anaknya.
Dan lagi-lagi sang waktu mampu membuat semua keadaan berubah. Si nenek mulai sakit-sakitan, membuat anak-anaknya kalang kabut harus membagi tugas antara mengurus ibunya atau pekerjaan yang selama ini menjadi tanggung jawabnya. Hingga pada suatu titik dimana si nenek harus tinggal bersama salah satu anaknya karena kesehatan yang kurang memungkinkan untuk tinggal sendiri.
Disinilah perubahan besar itu terjadi. Si anak merasa bahwa dengan membawa ibunya tinggal bersamanya, ibunya menjadi lebih nyaman dan tenang karena tidak sendiri, sehingga si anak bisa tetap bekerja. Namun ternyata, dugaan si anak tidak sepenuhnya benar, ibunya mengharapkan si anak dan cucunya bisa menemaninya setiap saat, namun si anak tidak mampu dan membuat si nenek merasa "kurang diperhatikan", akhirnya si nenek meminta untuk tinggal bersama anaknya yang lain. Hal yang sama pun terulang, selalu ada sesuatu yang membuat si nenek kurang betah tinggal bersama anaknya. Mungkin disinilah kebenaran kalimat dari seorang pepatah yang mengatakan bahwa, "seorang ibu mampu mengurus beberapa orang anaknya, namun beberapa orang anak belum tentu mampu mengurus seorang ibu".
Setelah beberapa kali berpindah tempat tinggal di rumah anak-anaknya, si nenek kembali ke rumah anaknya yang pertama kali ditinggali. Namun anaknya yang lain beberapa kali juga kerap mengunjungi si nenek yang berada di salah satu rumah anaknya.
Beberapa bulan pun berlalu, usia si nenek semakin senja dan membuatnya semakin membutuhkan perhatian lebih.
Si anak berusaha memberikan perhatian yang lebih terhadap ibunya. Tanpa disadari, si cucu merasa "cemburu" terhadap apa yang dilakukan oleh orang tuanya terhadap neneknya. Si cucu sering dilibatkan dalam mengurusi si nenek, namun si cucu masih sering belum sepenuh hati melakukan tugasnya.
Pertikaian kecil sering mewarnai kehidupan si anak dan si cucu. Si anak merasa bahwa si cucu sudah besar sehingga harus mampu mengurus dirinya sendiri dan membantu mengurus si nenek, namun si cucu merasa bahwa si nenek memiliki beberapa orang anak, namun mengapa hanya orang tuanya yang mengurus si nenek? Anak-anak si nenek yang lain juga tidak terlalu terlihat dalam mengurusi si nenek. Meskipun salah seorang anak si nenek yang lain juga kerap mengunjungi si nenek, barang satu malam saja. Si cucu juga sadar, berpikiran seperti itu merupakan keegoisan yang sangat besar. Orang tua memang sudah selayaknya diperhatikan dengan baik, karena beliau juga sangat memperhatikan orang tuanya dengan baik, dahulu.
Hingga pada suatu malam, keluarga ini melakukan perjalanan untuk pergi ke rumah si nenek karena si nenek sangat rindu dengan rumahnya. Dalam perjalanan, si nenek mengeluhkan bahwa beliau mual, sakit perut, dan ingin teh panas dan si anak meresponnya dengan baik. Saat itu pula, si cucu juga merasakan mual. Sampai dirumah si nenek, si cucu langsung keluar, duduk di teras, untuk mencari angin segar. Si anak yang mengangkat tas si nenek meminta si cucu untuk membukakan pintu.
Ketika semua sudah selesai dan si nenek sudah beristirahat, si anak berkata pada anaknya (si cucu),
"Jadi orang jangan egois, jangan mentingin diri sendiri, bantu orang lain", si cucu pun menjawab, "aku tadi mual", dan tanpa disangka, si anak malah menjawab, "pokoknya jangan mentingin diri sendiri, dibuat jalan aja, ntar juga hilang mualnya". Fix, kalimat itu mampu meruntuhkan perasaan si cucu dengan sempurna. Dengan perasaan kesal karena merasa orang tuanya lebih peduli dengan neneknya, si cucu mengatakan, "kalo nenek yang ngeluh, pasti nggak disuruh apa-apa", si anak yang juga kesalpun langsung menjawab, "emang kok, perhatian cuma buat nenek, nggak perhatian ke kamu. Enak kan jadi nenek". Si cucu langsung menjawab kembali, "ya, mengambil semua perhatian". Dan si anak hanya diam.
"Ikhlas memang tidaklah mudah. Benar-benar membutuhkan hati yang tulus dalam menggapai ridla Allah Swt."
Selasa, 05 Juli 2016
Kisah Lebaran
Lebaran merupakan momen yang indah. Selalu ada cerita di setiap tahunnya, selalu ada harapan dalam setiap penantian kedatangannya, dan selalu ada kebahagiaan dan kesedihan dalam dinamikanya.
Sama seperti lebaranku tahun lalu, memiliki kisah indah karena masih diberi kesempatan untuk merasakan macetnya perjalanan mudik, bahagianya bertemu keluarga besar dan saudara-saudara.
Namun ada satu sisi yang tetap tidak bisa aku kesampingkan, bayangan tentang seseorang yang harus pergi untuk menuntut ilmu di luar kota, terus menggangguku. Tapi aku tahu bahwa hal itu pasti terjadi. Aku melepasnya dengan secercah harapan, bahwa lebaran tahun depan, kami bisa bertemu kembali.
Satu tahun telah berlalu, banyak yang berubah dengan hidupku. Dari anak SMA dan sekarang sudah menjadi mahasiswa, dari yang dulu hanya merasakan libur semester selama 3 minggu dan sekarang bisa merasakan libur semester selama 3 bulan dengan oleh-oleh tugas yang menumpuk, dari yang dulu pulang sekolah pada sore hari dan sekarang pulang dari kampus malam hari. Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah: harapanku.
Manusia memang boleh berharap, namun tetap Allah yang menentukan. Mungkin belum saatnya untuk bertemu.
Satu tahun lagi tanpa kamu, apa aku bisa?
Sama seperti lebaranku tahun lalu, memiliki kisah indah karena masih diberi kesempatan untuk merasakan macetnya perjalanan mudik, bahagianya bertemu keluarga besar dan saudara-saudara.
Namun ada satu sisi yang tetap tidak bisa aku kesampingkan, bayangan tentang seseorang yang harus pergi untuk menuntut ilmu di luar kota, terus menggangguku. Tapi aku tahu bahwa hal itu pasti terjadi. Aku melepasnya dengan secercah harapan, bahwa lebaran tahun depan, kami bisa bertemu kembali.
Satu tahun telah berlalu, banyak yang berubah dengan hidupku. Dari anak SMA dan sekarang sudah menjadi mahasiswa, dari yang dulu hanya merasakan libur semester selama 3 minggu dan sekarang bisa merasakan libur semester selama 3 bulan dengan oleh-oleh tugas yang menumpuk, dari yang dulu pulang sekolah pada sore hari dan sekarang pulang dari kampus malam hari. Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah: harapanku.
Manusia memang boleh berharap, namun tetap Allah yang menentukan. Mungkin belum saatnya untuk bertemu.
Satu tahun lagi tanpa kamu, apa aku bisa?
Senin, 04 Juli 2016
Selamat Lebaran 1437 H
Allahuakbar...
Allahuakbar...
Laailaahaillallahuwallahuakbar...
Allahuakbar wa lillahilhamd...
Insyaallah, tidak lebih dari 24 jam lagi, gema takbir ini akan menghiasi pendengaran kita, tanda bahwa hari kemenangan akan segera datang.
Baju lebaran, pulang kampung, makanan, sudah disiapkan jauh sebelum hari kemenangan ini datang. Banyak pengorbanan yang dilakukan, banyak kebahagiaan yang ditampilkan. Para perantau dengan semangat empat-lima berbondong-bondong untuk pulang ke kampung halaman, rasa rindu yang sudah tak terbendung, akan segera tersampaikan.
Ada yang berusaha pulang kampung, namun ada juga yang masih sibuk dengan urusan dunianya. Pulanglah, keluargamu merindukanmu dirumah. Mungkin bisa dengan telepon, namun percayalah itu bukan pengobat rindu, karena obat rindu hanyalah bertemu.
Para mahasiswa yang menuntut ilmu jauh dari rumah, sangat menantikan hari-hari ini. Dimana ia bisa melepas lelah dirumah, dimana ia bisa melepas rindu setelah berbulan-bulan tidak bertemu keluarga, dimana ia bisa makan dengan lahap tanpa harus memikirkan "besok aku makan apa ya?". Bukankah zona paling nyaman dari semua zona nyaman yang ada adalah keluarga?
Untuk ayah, bunda, dek Abi, dan dek Fia, aku bahagia menjadi bagian dari kalian. Terima kasih untuk kasih sayangnya selama ini.
And special thanks to Allah, i have them.
Selamat menyambut lebaran,
Taqabbalallahu minna wa minkum
Minal aidzin wal faizin
Allahuakbar...
Laailaahaillallahuwallahuakbar...
Allahuakbar wa lillahilhamd...
Insyaallah, tidak lebih dari 24 jam lagi, gema takbir ini akan menghiasi pendengaran kita, tanda bahwa hari kemenangan akan segera datang.
Baju lebaran, pulang kampung, makanan, sudah disiapkan jauh sebelum hari kemenangan ini datang. Banyak pengorbanan yang dilakukan, banyak kebahagiaan yang ditampilkan. Para perantau dengan semangat empat-lima berbondong-bondong untuk pulang ke kampung halaman, rasa rindu yang sudah tak terbendung, akan segera tersampaikan.
Ada yang berusaha pulang kampung, namun ada juga yang masih sibuk dengan urusan dunianya. Pulanglah, keluargamu merindukanmu dirumah. Mungkin bisa dengan telepon, namun percayalah itu bukan pengobat rindu, karena obat rindu hanyalah bertemu.
Para mahasiswa yang menuntut ilmu jauh dari rumah, sangat menantikan hari-hari ini. Dimana ia bisa melepas lelah dirumah, dimana ia bisa melepas rindu setelah berbulan-bulan tidak bertemu keluarga, dimana ia bisa makan dengan lahap tanpa harus memikirkan "besok aku makan apa ya?". Bukankah zona paling nyaman dari semua zona nyaman yang ada adalah keluarga?
Untuk ayah, bunda, dek Abi, dan dek Fia, aku bahagia menjadi bagian dari kalian. Terima kasih untuk kasih sayangnya selama ini.
And special thanks to Allah, i have them.
Selamat menyambut lebaran,
Taqabbalallahu minna wa minkum
Minal aidzin wal faizin
Minggu, 13 Maret 2016
Aku Rindu
Ketika dua orang saling mencintai namun harus terpisah oleh
jarak, hanya satu yang dapat dirasakan: rindu. Karena rindu, aku bisa belajar
bagaimana menjaga cinta itu agar selalu ada, bahkan terus tumbuh. Karena
rindu, aku bisa belajar bagaimana cara memelukmu dari jauh: lewat doa. Karena rindu, aku
bisa belajar untuk lebih dekat dengan Allah: memintaNya menjagamu untukku. Rindu juga
mengajarkanku bahwa, semakin jauh jarak yang
memisahkan, semakin lama detik berputar untuk menunggu, maka semakin bahagia
ketika bertemu.
Jauh bukan berarti tidak peduli, karena perhatian sekecil upil
di hidung akan menjadi gunungan emas ketika sedang merindu. Rindu bukan berarti
sendu, jadikan rindu sebagai penyemangat untuk menunggu. Sembari menunggu,
gunakan waktu untuk perbaiki kalbu.
Jauh-dekat hanyalah jarak raga, namun ketika sudah berbicara
soal “rindu”, masihkah mampu terpisah oleh jarak? Bukankah doa mampu menembus
jarak, ruang, dan waktu? Entah siapa yang merasakan terlebih dahulu, apakah hati,
pikiran, atau sekedar keinginan untuk bertemu, yang jelas rindu ini milikmu.
Tanpamu semua berbeda, aku tahu kamu bukan segalanya, namun bagiku, kamu adalah pelengkap. Seperti masakan tanpa bumbu, bukan tidak bisa dimakan, namun
terasa kurang nikmat.
Senin, 30 November 2015
About 30 November
30 November 2015. Tepat 3 tahun yang lalu. Aku mengenal seorang laki-laki yang tidak pernah ku sangka dirinya akan menjadi sangat istimewa untukku. Perkenalan singkat, konyol, namun penuh makna.
Sekolahku mengadakan sebuah kegiatan di Kabupaten Jombang, tepatnya di Desa Godong, Kecamatan Gudo. Kegiatan itu bernama Bintang Tauladan. Kami pergi ke Jombang menggunakan kereta api. Saat briefing sebelum hari-H, disepakati bahwa kami langsung berkumpul di stasiun pukul 08.00.
Pagi itu, aku berlari dengan tergesa menuju pintu Stasiun karena waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 lewat beberapa menit. Belum sampai didepan stasiun, aku melihatnya membeli makanan di salah satu pedagang yang berjualan di sepanjang trotoar menuju pintu stasiun.
"Sudah berangkat ta?" Tanyaku
Dia hanya diam sambil memandangku, lalu menggelengkan kepalanya.
"Huh!" Rutukku dalam hati "Ditanya malah nggak jawab. Nyebelin banget"
~ Malam harinya ~
Kami sedang briefing di sebuah musholla yang kami anggap sebaga central tempat berkumpul. Aku sebagai ketua pensi diminta untuk mendata pengisi acara dan dia salah satunya, dia diminta untuk mengaji sebagai pembuka acara. Dari situ kami akhirnya berbincang-bincang hingga larut malam. Godaan-godaan jahil teman-teman tidak luput dijatuhkan pada kami. Kami bertukar nomor telepon berjanji untuk melanjutkan cerita lewat sms. Akhirnya malam itu kami tutup dengan sms singkat hingga akhirnya aku tertidur.
Sungguh tidak pernah terbayangkan, bahwa kamu yang aku pilih. Seorang siswa pindahan yang baru 5 hari, seorang laki-laki menyebalkan yang ketika ditanya tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepala, namun saat ini, hal itu sudah tidak menjadi hal yang menyebalkan, bahkan kini hal itu menjadi sangat indah untuk dikenang. Terima kasih untuk segalanya.
I Miss You.
I Miss You.
Kamis, 02 Juli 2015
Ceritanya Kangen
Aku merasa kehilangan sebagian diriku karna temen-temenku.. Dan aku tak ingin kau pun hilang dariku..
Aku tuh pingin banget ngegenggam kedua tangannya.. Aku cuma mau bilang kalo aku sayaaang banget sama dia.. Aku pingin dia liat ketulusan cintaku dari tatapan mataku dari getar suaraku..Tapi dia kayaknya nggak suka kalo tak pegang tangannya..
Mau apa ya? Jadilah dirimu sendiri.. Aku malah nggak suka kalo kepaksa.. Aku aja yang ikutin kamu.. Aku akan biasakan kalo kamu cuek, kamu nggak perhatian, nggak papa kok.. Aku tetep sayang kamu kok :) Meski kamu nggak sesuai yang aku pikirkan.. Jauh sekali..
Kamu harimau putih kecilku.. Dan aku harimau putih kecil yang sedikit lebih besar yang akan menjagamu :)
Sudah sudah.. Aku sayang kamu.. Aku nggak mau tengkar.. Aku akan selalu menjaga cinta ini.. Entah sampai kapan.. Dan tak terlintas sedikitpun dibenakku untuk mengakhirinya..
Mau apa ya? Jadilah dirimu sendiri.. Aku malah nggak suka kalo kepaksa.. Aku aja yang ikutin kamu.. Aku akan biasakan kalo kamu cuek, kamu nggak perhatian, nggak papa kok.. Aku tetep sayang kamu kok :) Meski kamu nggak sesuai yang aku pikirkan.. Jauh sekali..
Kamu harimau putih kecilku.. Dan aku harimau putih kecil yang sedikit lebih besar yang akan menjagamu :)
Sudah sudah.. Aku sayang kamu.. Aku nggak mau tengkar.. Aku akan selalu menjaga cinta ini.. Entah sampai kapan.. Dan tak terlintas sedikitpun dibenakku untuk mengakhirinya..
Mungkin sebenernya lebih dari ini, tapi cuma ini yang kesimpen di hp. Selebihnya kesimpen di hati, kok, haha.
Ternyata sudah lama juga ya, perasaan baru kemarin kenal, eh sekarang udah mau pisah. Semoga bukan pisah yang sesungguhnya, ya. Cari ilmu sebanyak-banyaknya disana, jadi laki-laki yang lebih baik dari sebelumnya, kalo pulang udah harus lancar Bahasa Arabnya, dan siap ke Madinah, kota impianmu. Kamu nggak akan sendirian, karena doaku, selalu menyertai setiap langkahmu.
Always Love : Nuzla Aimmatu Rasyida
Langganan:
Postingan (Atom)
