Namanya telah tertulis, meski wajahnya belum mampu terlukis
Ada kalanya harus bersabar, serta tak lupa terus berikhtiar
Yang telah ditentukan, tidak selalu langsung dipersatukan
Butuh perjuangan untuk pertemuan, bahkan memberikan ruang untuk harapan
Lewat doa-doa yang dipanjatkan, meski pada akhirnya bukan tujuan
Minggu, 27 Januari 2019
Selasa, 04 Desember 2018
Tentangnya
Semua ini tentang waktu
Bagaimana dia datang
Bagaimana dia pergi
Bagaimana dia pulang
Semua itu berarti
Tentang cinta
Tentang perjuangan
Tentang keikhlasan
Tentang dia
Yang tidak pernah hilang
Yang tidak pernah terganti
Yang sedang tidak ada di sisi
Tidak pernah lepas
Senyum yang terukir di bibirku
Harapan yang membumbung di anganku
Karenamu
Terima kasih
Untuk kesempatan mengenalmu
Untuk kesempatan bersamamu
Kamis, 19 Juli 2018
Doa itu Menakjubkan
Hal luar biasa itu terjadi juga
Setelah sekian lama
Apakah ini pertanda
Untuk menguatkan cinta yang ada
Atau memang tidak ada lagi kata bersama
Apapun itu
Aku tetap percaya Tuhanku
Aku yakin Allah bersamaku
Dan untuk kita
Semoga tetap terjaga
Dalam payung doa-doa
Setelah sekian lama
Apakah ini pertanda
Untuk menguatkan cinta yang ada
Atau memang tidak ada lagi kata bersama
Apapun itu
Aku tetap percaya Tuhanku
Aku yakin Allah bersamaku
Dan untuk kita
Semoga tetap terjaga
Dalam payung doa-doa
Rabu, 10 Januari 2018
Antara Cinta, Jarak, dan Keyakinan
Ada seseorang yang telah bertahun-tahun mencintai orang yang sama,
Membayangkan hidup berdua dengan orang yang sama,
Memimpikan selalu bergandeng tangan dengan orang yang sama.
Tidak pernah berubah,
Tidak pernah menyerah,
Tidak pernah berganti arah.
Satu tujuan,
Satu harapan,
Satu keyakinan.
Namun takdir telah menggariskan cerita,
Membuat jarak diantara mereka,
Dengan tujuan menguji cinta yang ada.
Perjuangan terus dilanjutkan,
Ikhtiar tetap dilakukan,
Tekad tidak pernah digadaikan.
Angannya terus tumbuh,
Rasanya terus diasuh,
Doanya tidak pernah luluh.
Kini,
Tanpa rasa bosan,
Seseorang itu sedang menantikan,
Keajaiban yang telah dilukiskan,
Menikmati seluruh kerinduan,
Serta belajar merelakan setiap kejadian
Senin, 06 November 2017
Goresan Pagi Hari
Ya Rabbi
Aku pernah bermimpi
Menua bersama dia yang kucintai
Namun kini
Dia telah pergi
Merangkai mimpi
Di seberang negeri
Tak tahu kapan akan berhenti
Haruskah aku menanti?
Ataukah kubiarkan saja dia lari
Apakah ini hanya kuingini?
Ataukah doa yang akan jadi
Rindu ini
Menyatu dalam relung hati
Berharap dia memahami
Bahwa satu nama yang abadi
Aku pernah bermimpi
Menua bersama dia yang kucintai
Namun kini
Dia telah pergi
Merangkai mimpi
Di seberang negeri
Tak tahu kapan akan berhenti
Haruskah aku menanti?
Ataukah kubiarkan saja dia lari
Apakah ini hanya kuingini?
Ataukah doa yang akan jadi
Rindu ini
Menyatu dalam relung hati
Berharap dia memahami
Bahwa satu nama yang abadi
Kamis, 19 Januari 2017
Analogi HP Hilang dan Jodoh
Tepat 4 hari, HP yang baru menemani
aku selama 7 bulan raib. Bersih tanpa meninggalkan jejak. Pencarian melalui lokasi
yang ditunjukkan oleh GPS telah dilakukan, pencarian melalui provider dan merk HP
juga tidak luput dari proses ikhtiar, namun hasilnya nol besar, HP itu tetap
tidak ditemukan. Sedih, kecewa, marah, menyesal, selalu menghantuiku
akhir-akhir ini, banyak kata “seandainya” yang terucap maupun hanya dalam
lamunan, namun aku tahu, hal itu tidak akan membuahkan hasil.
Satu kalimat sederhana yang aku
ingat dari seorang panutan dalam keluargaku, ayah, “Ikhlasin aja, Mbak. Yang hilang masih HP, kalau masih rezekimu juga
bakal balik kok.” Kemudian aku menjawab, “Iya, yah, masih HP, belum dia”
(aku menyebut nama), kemudian ayah tertawa dan bertanya lagi, “Kalau dia hilang
gimana?” Akupun menjawab dengan mantap, “Ya bakal tak cari sampai ketemu”,
ayahku bertanya kembali, “Mau nyari dimana?” Aku menjawab dengan santai dan ku akhiri
dengan “Di doanya orang-orang, kali aja nyempil, banyak yang doain” tawa ayahku langsung meledak seketika, bagai bom atom yang
ledakannya menembus lapisan bumi paling luar.
Dari kalimat sederhana ayahku, aku
menemukan sesuatu yang berharga, mungkin memang terdengar klise atau malah
menggelikan, tapi ini membawa pengaruh besar dalam harapanku: (Mengenai
harapanku, bisa dibaca di post sebelumnya). Kalimatnya adalah “Kalau masih
rezekimu, juga bakal balik kok” bisa di analogikan dengan “Kalau jodoh, juga
bakal balik kok”. Sejauh apapun HP itu hilang, se-lama apapun HP itu nggak ada,
kalau memang masih hakku, juga bakal balik, tapi kalau sudah bukan hakku, mau
di doain kayak gimanapun juga nggak bakal ketemu, sama kayak jodoh, sejauh
apapun jarak yang terbentang, se-lama apapun waktu mampu membuat rentang
pertemuan, kalau memang jodoh juga bakal pulang kok, sebaliknya kalau emang
nggak jodoh, mau ditunggu sampai ribuan tahun, bahkan mau disusul sampai ke
ujung dunia juga bakal tetep buat orang lain. Sederhana, tapi bermakna.
Meskipun jodoh akan datang dengan
sendirinya, bukan berarti tidak perlu berikhtiar untuk mencari, apalagi ketika
sudah ada satu nama yang terharapkan. Sebut namanya dalam setiap doa, kemudian
pasrahkan pada yang Maha Kuasa. Sempurna.
Senin, 09 Januari 2017
Untukmu
Hai, apa kabar kamu? Apa kabar hatimu? Aku harap baik-baik saja, masih sama, tak ada yang berganti.
557 hari sejak hari itu, banyak yang telah berubah, tapi satu yang tidak akan pernah berubah: rumah untukmu.
Kembalilah, pulanglah, aku rindu.
Akan selalu ku ingat, janjiku padamu: untuk selalu menunggu. Percayalah, itu ikhtiarku.
Maafkan aku atas goresan itu, penyebab luka di hati ayah-bundaku, dan mungkin juga di hatimu.
Jaga dirimu baik-baik, salam rindu dari Surabaya, untuk seseorang yang sedang berjuang di seberang sana. Ku titipkan rindu ini, pada angin yang berhembus ke arah barat, berharap sampai pada pemilik rindu di sekitaran kilometer 700.
557 hari sejak hari itu, banyak yang telah berubah, tapi satu yang tidak akan pernah berubah: rumah untukmu.
Kembalilah, pulanglah, aku rindu.
Akan selalu ku ingat, janjiku padamu: untuk selalu menunggu. Percayalah, itu ikhtiarku.
Maafkan aku atas goresan itu, penyebab luka di hati ayah-bundaku, dan mungkin juga di hatimu.
Jaga dirimu baik-baik, salam rindu dari Surabaya, untuk seseorang yang sedang berjuang di seberang sana. Ku titipkan rindu ini, pada angin yang berhembus ke arah barat, berharap sampai pada pemilik rindu di sekitaran kilometer 700.
Langganan:
Postingan (Atom)
